Jagung
“Mengapa anda membagi-bagikan bibit jagung terbaik itu pada tetangga-tetangga anda? Bukankah mereka mengikuti kontes ini juga setiap tahunnya?”, tanya sang wartawan.
“Tak tahukah anda?”, jawab petani itu. “Bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari bunga-bunga yang masak dan menebarkannya dari satu ladang ke ladang yang lain. Bila tanaman jagung tetangga saya buruk, maka serbuk sari yang ditebarkan ke ladang saya juga buruk. Ini tentu menurunkan kualitas jagung saya. Bila saya ingin mendapatkan hasil jagung yang baik, saya harus menolong tetangga saya mendapatkan jagung yang baik pula.”
Begitu pula dengan hidup kita. Mereka yang ingin meraih keberhasilan harus menolong tetangganya menjadi berhasil pula. Mereka yang menginginkan hidup dengan baik harus menolong tetangganya hidup dengan baik pula. Nilai dari hidup kita diukur dari kehidupan-kehidupan yang disentuhnya.
Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Produksi Padi, Jagung dan Kedelai di Provinsi Sulawesi Selatan (ATAP 2006-2007 dan ARAM II 2008)
| | |
| Tuesday, 01 July 2008 | |
1. Padi
2. Jagung
3. Kedelai
Source : http://sulsel.bps.go.id | |
Produktivitas Meningkat, Indonesia Siap Jadi Net-Eksportir Jagung
Menurut Mentan, peningkatan produksi jagung sangat terkait dengan benih. Hingga kini baru 40 % benih yang digunakan adalah hibrida yang peningkatan produksinya sangat memadai. Bila seluruh benih komposit tergantikan dengan hibrida, maka kenaikan produksi akan terjadi dan pada akhirnya kebutuhan dalam negeri dapat terpenuhi secara keseluruhan dan terdapat kelebihan yang bisa digunakan untuk ekspor.
“Tahun ini, kita targetkan adanya kenaikan produksi hingga 20% sehingga total produksi kita 15,9-16,5 juta ton. Jumlah ini meningkat jauh dari tahun lalu yang 13,26 juta ton. Peningkatan produksi tersebut dengan peningkatan produktivitas 4-4,2 ton per hektar,” ujar Mentan.
Dengan asumsi capaian produksi tersebut tercapai, maka Indonesia sudah dapat dikatakan sebagai net-eksportir mengingat kebutuhan dalam negeri, terutama industri pakan ternak yang hanya mencapai 8,13 juta ton. Dengan demikian, terdapat kelebihan kebutuhan yang mencapai 7,5-8,5 juta ton. Bila kelebihan tersebut diserap untuk kebutuhan lain dalam negeri mencapai 2 juta ton, maka terdapat 5 juta ton yang bisa diekspor. Dalam catatan, negara-negara importer yang sampai saat ini membutuhkan jagung antara lain Malaysia, Jepang, dan India. Bahkan, Jepang setiap tahunnya membutuhkan jagung hingga 16 juta ton.
Selain persoalan benih, Mentan juga mengungkapkan peningkatan produsi jagung nasional juga dilakukan melalui perluasan areal lahan, terutama lahan kering dan juga lahan-lahan perkebunan milik swasta maupun perhutani atau inhutani. “Masih banyak lahan potensial yang bisa dioptimalkan dalam rangka meningkatkan produksi nasional,” tegas Mentan.
Di bagian lain, Mentan mengakui masih terjadi kesenjangan antara daerah penghasil dan pengguna jagung di Indonesia. Kondisi ini menjadi sebab antara pasokan dan produksi akhir dari jagung, yang mayoritas menjadi pakan ternak, tak sebanding. “Yang pasti harga pakan menjadi lebih mahal dibanding bila antara daerah produsen jagung juga menjadi daerah produsen pakan,” ujar Mentan.
Untuk mengatasinya, Mentan mengungkapkan bila Deptan telah berupaya membuat silo-silo atau tempat penyimpanan jagung di berbagai daerah produsen. “Memang sudah kita buat 39 pusat penyimpanan dan penggilingan, namun jumlah itu tidak memadai dengan kapasitas produksi yang terus meningkat. Oleh karena itu, kita berharap jumlah pusat penyimpanan ini bisa bertambah sehingga memperpendek jalur distribusi dari wilayah produsen ke wilayah yang membutuhkannya,” papar Mentan.
Hingga kini, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lampung menjadi wilayah produsen jagung nasional. Masing-masing menghasilkan 40%, 21%, dan 12% dari produksi nasional. Sementara, Sulawesi Selatan dan Gorontalo yang diharapkan menjadi wilayah utama penghasil jagung baru menghasilkan 7% dan 3% produksi nasional. **Source : http://antonapriyantono.com
Jagung antara Pangan, Pakan, & Energi
Momentum Emas Petani Jagung
(Istimewa) |
INILAH.COM, Jakarta - Stok jagung dunia terus merosot. Jumlah prak sepadan dengan permintaan. Sesungguhnya, kondisi ini bisa menjadi momentum emas bagi bangkitnya budidaya tanaman jagung di Tanah Air. Apalagi, harganya pun sedang bagus.
Saat ini, stok jagung dunia hanya mencukupi kebutuhan untuk 48 hari akibat tingginya permintaan dari industri bahan campuran utama ethanol, biofuel, pakan ternak hingga pangan olahan. Otomatis, harganya juga terus naik.
“"Keterbatasan produksi yang tidak mampu memenuhi kebutuhan permintaan ini sebetulnya dapat dijadikan momentum emas untuk peningkatan produksi jagung nasional," ujar Siswono Yudo Husodo, Ketua Dewan Pertimbangan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Sabtu (17/5) di Jakarta.
Dalam setahun terakhir, harga jagung melonjak 69%. Gagal panen dan kenaikan harga jagung diprediksi memperburuk stok pangan global yang diawali dengan menurunnya ekspor beras dari Mesir, India, dan Vietnam.
Harga jagung di pasar internasional seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (17/5), sudah mencapai US$ 591 per bushel. Naiknya harga jagung dunia ikut mendongkrak harga jagung lokal.
"Kondisi semacam ini sangat menguntungkan petani. Harga jual jagung pipilan kering saat ini mencapai Rp 2.000 per kilogram. Keuntungan yang sangat baik," tambah Siswono.
Saat ini, biaya produksi untuk bertanam jagung per hektare berkisar Rp 3,5 juta. Jika rata-rata produksi 8 ton per hektare, pendapatan petani atau pengusaha setelah dikurangi biaya produksi mencapai Rp 12,5 juta.
Melihat jumlah modal yang cukup besar, tampaknya, masih perlu peran swasta agar Indonesia bisa menjadi produsen jagung dunia dengan menggenjot target perluasan tanam dan produktivitasnya.
ASEAN Business Manager DuPont Andy Gumala menambahkan, kondisi yang terjadi pada komoditas jagung ini sangat mengkhawatirkan. Apalagi, hal ini sudah berlangsung tiga tahun. Idealnya, stok jagung dunia cukup untuk satu musim tanam.
Dalam kondisi seperti sekarang, mudah terjadi keguncangan harga jagung di pasar dunia. Saat ini, produksi cenderung tetap akibat terbatasnya perluasan lahan, padahal permintaan justru meningkat.
Pada 2007, produksi jagung dunia mencapai 770 juta ton, sementara konsumsi 774 juta ton. China yang sebelumnya eksportir jagung, tahun lalu mulai mengimpor 1 juta ton, Malaysia mengimpor 5 juta ton, Indonesia 1 juta ton, Taiwan 1 juta ton.
Kebutuhan importasi jagung untuk negara-negara di Asia tahun lalu 35 juta ton yang dipasok dari negara Brasil, Argentina, dan AS. Potensi perluasan lahan, menurut Andy, hanya bisa dilakukan di hutan Amazon dan Indonesia. Di luar wilayah itu sulit.
Jagung saat ini jadi sumber pangan manusia, pakan ternak, dan prioritas utama untuk dikonversi sebagai sumber bioenergi (green oil). Ketiganya harus dipenuhi secara bersamaan sehingga salah satu dikorbankan.
Ketika perhatian penggunaan jagung sebagai sumber bioenergi digalakkan di dunia dan Indonesia, fungsi jagung sebagai bahan pakan ternak terpaksa dikorbankan untuk dialihfungsikan ke kendaraan, pabrik, dan listrik.
Departemen pertanian AS (USDA, United States Department of Agriculture) memperkirakan, kebutuhan etanol terus meningkat sampai 2010. Target produksi biofuel pada 2010 direncanakan 35 miliar galon.
Lebih dari 30% produksi jagung AS akan disedot ke industri biofuel. Tidak heran jika harga jagung terus meningkat. AS sedang mempertimbangkan prioritas pemanfaatan jagung untuk menjadi bahan pangan atau biofuel.
Artinya, masih besar peluang Indonesia menggenjot budidaya jagung mengingat permintaan pasar yang akan terus meningkat. Karenanya, jangan terlena. Jangan sia-siakan kesempatan emas di depan mata. [I3]






