Showing posts with label berita. Show all posts
Showing posts with label berita. Show all posts

Cari Untung di Bisnis Jagung

Asteria

(pb3.info)

INILAH.COM, Jakarta – Pengembangan bioethanol membuat sejumlah komoditas jadi primadona. Salah satunya jagung. Pasarnya kian meluas. Tak heran, banyak pihak swasta menyatakan minat berinvestasi dengan membuka areal penanaman di beberapa daerah.

Tak percaya? Dengarlah suara Adhie Widiarto, Market Development Manager PT Dupont Indonesia, produsen benih jagung hibrida. Menurutnya, pihaknya mendapat banyak tawaran kerja sama mengelola lahan jagung dalam skala luas.

"Sejumlah pengusaha telah menyatakan minatnya untuk melakukan investasi di sektor agribisnis jagung. Investasi di bidang ini sangat menguntungkan saat ini," katanya di sela panen perdana jagung hibrida P21 di Kawasan Industri Pupuk Kujang di Kabupaten Karawang Jawa Barat, Sabtu (12/7).

Adhie enggan menyebut pengusaha yang berminat. Dia hanya mengungkapkan beberapa wilayah yang dilirik swasta untuk pengembangan jagung. Wilayah itu antara lain Merauke, Papua, seluas 153 ribu hektar dari potensi lahan 300 ribu hektar. Juga Sumatera Utara (15 ribu hektar), Riau (7 ribu hektar), Kalimantan (22 ribu hektar), dan Sulawesi (50 ribu hektar).

Sementara Direktur Utama PT APB, Omay K Wiraatmadja menyatakan kesiapannya mengembangkan usaha pertanaman jagung di areal seluas 1.000 hektar khusus untuk Jawa Barat dalam dua tahun mendatang. Pertimbangannya, provinsi tersebut belum optimal produksi jagungnya dibanding Jateng dan Jatim.

“Pengembangan areal seluas itu akan dilakukan secara bertahap. Pada awalnya seluas 100 ha, kemudian setiap enam bulan dilakukan peningkatan sekitar 100 ha,” ujarnya.

Pengembangan lahan jagung itu akan dilakukan secara inti maupun plasma, yakni dengan bekerjasama dengan petani. PT APB akan menanggung sarana produksi seperti pupuk, benih, dan menjamin pembelian hasil panen petani.

“Harga jagung di dalam negeri saat ini dalam kondisi yang baik yakni mencapai Rp 3.600/kg pipilan kering, naik dibanding tahun lalu yang hanya Rp 2.200/kg atau sekitar Rp 800 ribu/ton jagung tongkol dari Januari 2008 yang masih Rp 650 ribu/ton jagung tongkol,” kata Omay yang juga Mantan Dirut PT Pupuk Kujang itu.

Ketertarikan para pengusaha swasta itu tidak lepas dari lonjakan harga jagung di pasar internsional. Hal itu disebabkan tingginya permintaan jagung akibat penggunaan energi alternatif biofuel di negara-negara maju.

Dirjen Tanaman Pangan Departemen Sutarto Alimoeso mengatakan, hingga 2017 harga jagung akan bertahan pada tingkatan yang mahal sehingga merupakan kondisi yang tepat untuk mengembangkan komoditas jagung di dalam negeri. Harga jagung impor sudah menembus US$ 303 per ton. Ditambah bea masuk 5%, harga jagung di Tanah Air menjadi Rp 3.000-Rp 3.100 per kg. Adapun harga jagung lokal saat ini berkisar Rp 2.300-Rp 2.900 per kg.

Menurut data Departemen Pertanian AS, pertumbuhan konsumsi jagung dunia lima tahun terakhir mencapai 2,7% atau melampaui tingkat pertumbuhan produksi sekitar 1,7%. Hal itu dipicu tingginya permintaan jagung sebagai bahan baku bioethanol di AS, Uni Eropa, dan China. Selain itu, juga karena meningkatnya kebutuhan jagung sebagai bahan baku pakan ternak dan industri makanan.

Wajar saja bila jagung menjadi rebutan sehingga harganya melambung. Menurut data USDA April lalu, stok jagung dunia hanya 99 juta ton, angka terendah sejak 1983. Tahun ini, produksi jagung dunia ditaksir 778 juta ton. Sedangkan kebutuhannya diperkirakan mencapai 788 juta ton.

Sekjen Asosiasi Perusakan Pakan Indonesia (GPMT), Fenni Firman Gunadi mengatakan, pabrik pakan nasional membutuhkan 350 ribu ton jagung per bulan. Namun, karena pasokan jagung dari petani belum bisa kontinyu, terkait penanaman dan panen jagung berlangsung musiman, pabrikan selalu melakukan impor. Pada 2005, Indonesia impor jagung 400 ribu ton, tahun 2006 1,7 juta ton. Meski tahun 2007 turun menjadi 670 ribu ton, tahun ini pabrik pakan diperkirakan butuh pasokan 3,8 juta ton.

“Kurun Januari-April, belum ada pabrik pakan yang mengimpor jagung. Sebab pasokan lokal masih mencukupi. Namun dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, di bulan Mei, Juni, dan Oktober jagung impor masuk. Sebab pada bulan itulah pasokan dari lokal kosong,” urai Fenni.

Permasalahannya adalah saat ini impor lebih sulit, karena pasokannya seret. Amerika, Brasil dan China sebagai sumber jagung sudah menjadi rebutan dunia. Paling bisa mendatangkan dari India. Hanya saja, kualitas jagung India belum pernah menonjol.

“Seharusnya Indonesia sudah swasembada jagung sehingga tidak perlu repot impor,” keluh Fenni. [I4]

Source : inilah.com

Produktivitas Meningkat, Indonesia Siap Jadi Net-Eksportir Jagung

JAKARTA - Menteri Pertanian Anton Apriyantono menyakini Indonesia segera menjadi net-eksportir jagung dengan cara meningkatkan produktivitas pada lahan yang ada saat ini. “Sekarang produktivitasnya baru 3,7 ton per hektar pada luas panen 3,6 juta hektar. Kalau produktivitasnya meningkat saja antara 4-5 ton per hektar, maka Indonesia siap jadi net-eksportir,” ujar Mentan Anton Apriyantono saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional Peranan Jagung dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan di Jakarta, Rabu (28/5).

Menurut Mentan, peningkatan produksi jagung sangat terkait dengan benih. Hingga kini baru 40 % benih yang digunakan adalah hibrida yang peningkatan produksinya sangat memadai. Bila seluruh benih komposit tergantikan dengan hibrida, maka kenaikan produksi akan terjadi dan pada akhirnya kebutuhan dalam negeri dapat terpenuhi secara keseluruhan dan terdapat kelebihan yang bisa digunakan untuk ekspor.

“Tahun ini, kita targetkan adanya kenaikan produksi hingga 20% sehingga total produksi kita 15,9-16,5 juta ton. Jumlah ini meningkat jauh dari tahun lalu yang 13,26 juta ton. Peningkatan produksi tersebut dengan peningkatan produktivitas 4-4,2 ton per hektar,” ujar Mentan.

Dengan asumsi capaian produksi tersebut tercapai, maka Indonesia sudah dapat dikatakan sebagai net-eksportir mengingat kebutuhan dalam negeri, terutama industri pakan ternak yang hanya mencapai 8,13 juta ton. Dengan demikian, terdapat kelebihan kebutuhan yang mencapai 7,5-8,5 juta ton. Bila kelebihan tersebut diserap untuk kebutuhan lain dalam negeri mencapai 2 juta ton, maka terdapat 5 juta ton yang bisa diekspor. Dalam catatan, negara-negara importer yang sampai saat ini membutuhkan jagung antara lain Malaysia, Jepang, dan India. Bahkan, Jepang setiap tahunnya membutuhkan jagung hingga 16 juta ton.

Selain persoalan benih, Mentan juga mengungkapkan peningkatan produsi jagung nasional juga dilakukan melalui perluasan areal lahan, terutama lahan kering dan juga lahan-lahan perkebunan milik swasta maupun perhutani atau inhutani. “Masih banyak lahan potensial yang bisa dioptimalkan dalam rangka meningkatkan produksi nasional,” tegas Mentan.

Di bagian lain, Mentan mengakui masih terjadi kesenjangan antara daerah penghasil dan pengguna jagung di Indonesia. Kondisi ini menjadi sebab antara pasokan dan produksi akhir dari jagung, yang mayoritas menjadi pakan ternak, tak sebanding. “Yang pasti harga pakan menjadi lebih mahal dibanding bila antara daerah produsen jagung juga menjadi daerah produsen pakan,” ujar Mentan.

Untuk mengatasinya, Mentan mengungkapkan bila Deptan telah berupaya membuat silo-silo atau tempat penyimpanan jagung di berbagai daerah produsen. “Memang sudah kita buat 39 pusat penyimpanan dan penggilingan, namun jumlah itu tidak memadai dengan kapasitas produksi yang terus meningkat. Oleh karena itu, kita berharap jumlah pusat penyimpanan ini bisa bertambah sehingga memperpendek jalur distribusi dari wilayah produsen ke wilayah yang membutuhkannya,” papar Mentan.

Hingga kini, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lampung menjadi wilayah produsen jagung nasional. Masing-masing menghasilkan 40%, 21%, dan 12% dari produksi nasional. Sementara, Sulawesi Selatan dan Gorontalo yang diharapkan menjadi wilayah utama penghasil jagung baru menghasilkan 7% dan 3% produksi nasional. **

Source : http://antonapriyantono.com

Jagung antara Pangan, Pakan, & Energi


Oleh trubusid




Berakhirnya masa ujian nasional 2008 bukan berarti kesibukan Mukhlis SPd sebagai guru berkurang. Pada Juni 2008 mendatang kesibukannya justru bakal bertambah. Saat itulah ia memanen 11.700 ton jagung pipil kering dari lahan 1.300 ha. Dengan harga jual Rp1.900/kg, setidaknya Rp22-miliar akan mengalir ke rekeningnya.

Jagung sebanyak itu memang bukan diperoleh dari lahan pribadinya. Mukhlis bermitra dengan 650 pekebun lain di Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Guru di salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Kecamatan Labangka itu membantu menyediakan modal produksi bagi para pekebun. Hasil panen seluruhnya dibeli Mukhlis dengan harga Rp1.700/kg untuk jagung berkadar air 20%.

Jagung itu kemudian dikeringkan hingga berkadar air 17%, lalu dijual kepada pembeli asal Surabaya dengan harga Rp1.900/kg. Mukhlis hanya mengutip laba Rp200/kg. Total keuntungan yang diraih mencapai Rp2-miliar/musim tanam.

Harga naik

Keuntungan berlimpah sejatinya tak hanya dinikmati Mukhlis. Para pekebun juga menikmati manisnya perniagaan jagung. Dengan biaya produksi Rp2-juta/ha, pekebun memanen rata-rata 9 ton jagung pipil kering/ha. Bila harga jual jagung berkadar air 20% di tingkat pekebun Rp1.700/kg, pekebun meraup omzet hingga Rp15,3-juta/musim tanam. Setelah dikurangi biaya produksi, pekebun memperoleh pendapatan Rp13,3-juta/musim tanam (4 bulan) atau Rp3,3-juta/bulan.

Beberapa bulan terakhir para pekebun jagung memang tengah berbulan madu. Harga yang terus menanjak menjadi alasan para pekebun berbondong-bondong membudidayakan Zea mays. Menurut data Subdirektorat Pasar Domestik Tanaman Pangan, Departemen Pertanian, dalam kurun 1998-2004 harga jagung nasional memang cenderung meningkat.

Harga sempat anjlok yakni Rp1.083/kg pada 2000. Namun, naik kembali menjadi Rp1.590 pada 2001 dan Rp2.139 pada 2004. Menurut Novia Edi Maharanto, dari divisi business analyst fieldcrop PT Tanindo Subur Prima, pada Februari 2008 harga jagung Rp2.500/kg. Bahkan di beberapa daerah sampai menyentuh harga Rp2.800.

Oleh sebab itulah areal tanam jagung di berbagai daerah terus bertambah. Salah satu contoh di Jawa Timur. Pada 2006, luas areal tanam di provinsi penghasil jagung terbesar di tanahair itu mencapai 1.099.184 ha dengan jumlah produksi 4.011.182 ton/tahun. Jumlah itu meningkat menjadi 1.153.496 ha dengan produksi 4.252.182 ton/tahun atau naik 241.000 ton pada 2007.

Permintaan tinggi

Bertambahnya luas areal tanam menjadi berkah bagi produsen benih. Menurut Doddy Wiratmoko, dari divisi market development fieldcrop PT Tanindo Subur Prima, volume penjualan benih pada 2006 hanya 10.000 ton. Pada 2007 meningkat hingga 19.800 ton. 'Kenaikannya hampir 2 kali lipat,' ujarnya. Pantas bila PT BISI Internasional Tbk berencana menyiapkan benih hingga 40.000 ton pada 2008. Jumlah itu untuk memenuhi kebutuhan benih pada penanaman seluas 2-juta hektar.

Lalu, mengapa harga jagung terus meroket? Handoyo, ketua Masyarakat Agribisnis Jagung Kabupaten Sumbawa, menuturkan tingginya harga jagung seiring derasnya permintaan dari industri pakan dan makanan. Produsen pakan ternak, konsumen jagung terbesar di tanahair. Mereka menyerap hingga 50% dari total produksi jagung nasional. 'Pembeli dari Surabaya bahkan sampai membangun gudang penyimpanan di Sumbawa,' katanya. Padahal, Jawa Timur gudangnya jagung nasional. Itu artinya, pasokan dari para pekebun di sana masih kurang sehingga mesti mendatangkan dari luar.

Kencangnya permintaan jagung di tanahair ditengarai akibat melambungnya harga jagung dunia. Harga jagung internasional per 9 Januari 2008 mencapai US$325/ton atau Rp3.072/kg. Harga itu jauh lebih tinggi ketimbang harga pada 2004 yang hanya US$90,37/ton atau Rp854/kg.

Harga minyak

Tingginya harga jagung dunia keruan saja membuat gonjang-ganjing industri pengolah jagung seperti produsen pakan ternak. Maklum, selama ini mereka juga mengandalkan pasokan impor. Untuk menekan biaya produksi, mereka akhirnya berpaling ke jagung lokal yang harganya lebih murah.

Harga jagung dunia yang semakin tinggi itu tak lepas dari efek domino melambungnya harga minyak dunia. Harga minyak mentah yang mencapai lebih dari US$100/barel mendorong beberapa negara untuk mengembangkan bahan bakar alternatif seperti bioetanol.

Menurut Dr M Arief Yudiarto, peneliti Balai Besar Teknologi Pati, jagung salah satu bahan baku yang potensial karena mengandung pati 60-70%. Seliter bioetanol dapat dihasilkan dari 2,5 kg jagung. Rendemen bioetanol dari jagung paling tinggi dibandingkan dengan bahan baku lain seperti tetes tebu alias molase. Untuk menghasilkan seliter bioetanol diperlukan 4 kg molase.

Itulah sebabnya 53% dari jumlah produsen bioetanol di dunia menggunakan jagung sebagai bahan baku. Salah satunya Amerika Serikat. Pada 2007, sebanyak 24% dari total konsumsi jagung di Amerika digunakan untuk memproduksi bioetanol.

Menggunakan jagung sebagai bahan baku energi ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi jagung sangat potensial karena memiliki rendemen tinggi. Di sisi lain pasokan bahan baku berkompetisi dengan kebutuhan pangan dan pakan. Meningkatnya harga jagung bisa berimbas pada harga pangan dan hasil ternak. Bioetanol dituding bakal memicu krisis pangan.

Mahal

Di Indonesia jagung memang belum populer digunakan sebagai bahan baku bioetanol. Pemakaian bioetanol berbahan jagung kurang efisien karena harganya lebih mahal daripada premium. Itu lantaran harga jagung cukup tinggi yakni Rp2.300/kg. Jadi untuk bahan baku saja menghabiskan biaya Rp5.750/liter, belum lagi ditambah biaya produksi. Sementara harga premium hanya Rp4.500/liter. Di Amerika harga setinggi itu tergolong murah karena harga bensin di sana setara Rp8.464/liter.

Meine van Noordwijk PhD, koordinator regional International Centre for Research Agroforestry (ICRAF), mewanti-wanti sebaiknya Indonesia jangan tergiur mengikuti jejak Amerika Serikat menggunakan jagung untuk bioetanol. Anggota famili Poaceae itu lebih rakus nitrogen. Menurut Committee on Water Implications of Biofuels Production, Water Science and Technology Board, Division on Earth and Life Studies, National Research Council Amerika Serikat, jagung membutuhkan pasokan nitrogen hingga 150 kg/ha dan 50 kg fosfor/ha.

Jumlah itu jauh lebih tinggi ketimbang kedelai untuk bahan baku biodiesel yang hanya membutuhkan 10 kg nitrogen/ha dan 20 kg fosfor. 'Padahal, untuk menghasilkan nitrogen dalam bentuk Urea diperlukan energi yang sangat tinggi,' kata Meine. Oleh karena itu Amerika kini tengah menjajaki pembuatan bioetanol berbahan serat. Jadi, bukan biji jagungnya yang diolah, melainkan tongkol, kulit, dan batang jagung. (Imam Wiguna/Peliput: Andretha Helmina, Niken Anggrek Wulan, dan Vina Fitriani)

Source : http://www.trubus-online.co.id

Momentum Emas Petani Jagung

M Dindien Ridhotulloh

(Istimewa)

INILAH.COM, Jakarta - Stok jagung dunia terus merosot. Jumlah prak sepadan dengan permintaan. Sesungguhnya, kondisi ini bisa menjadi momentum emas bagi bangkitnya budidaya tanaman jagung di Tanah Air. Apalagi, harganya pun sedang bagus.

Saat ini, stok jagung dunia hanya mencukupi kebutuhan untuk 48 hari akibat tingginya permintaan dari industri bahan campuran utama ethanol, biofuel, pakan ternak hingga pangan olahan. Otomatis, harganya juga terus naik.

“"Keterbatasan produksi yang tidak mampu memenuhi kebutuhan permintaan ini sebetulnya dapat dijadikan momentum emas untuk peningkatan produksi jagung nasional," ujar Siswono Yudo Husodo, Ketua Dewan Pertimbangan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Sabtu (17/5) di Jakarta.

Dalam setahun terakhir, harga jagung melonjak 69%. Gagal panen dan kenaikan harga jagung diprediksi memperburuk stok pangan global yang diawali dengan menurunnya ekspor beras dari Mesir, India, dan Vietnam.

Harga jagung di pasar internasional seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (17/5), sudah mencapai US$ 591 per bushel. Naiknya harga jagung dunia ikut mendongkrak harga jagung lokal.

"Kondisi semacam ini sangat menguntungkan petani. Harga jual jagung pipilan kering saat ini mencapai Rp 2.000 per kilogram. Keuntungan yang sangat baik," tambah Siswono.

Saat ini, biaya produksi untuk bertanam jagung per hektare berkisar Rp 3,5 juta. Jika rata-rata produksi 8 ton per hektare, pendapatan petani atau pengusaha setelah dikurangi biaya produksi mencapai Rp 12,5 juta.

Melihat jumlah modal yang cukup besar, tampaknya, masih perlu peran swasta agar Indonesia bisa menjadi produsen jagung dunia dengan menggenjot target perluasan tanam dan produktivitasnya.

ASEAN Business Manager DuPont Andy Gumala menambahkan, kondisi yang terjadi pada komoditas jagung ini sangat mengkhawatirkan. Apalagi, hal ini sudah berlangsung tiga tahun. Idealnya, stok jagung dunia cukup untuk satu musim tanam.

Dalam kondisi seperti sekarang, mudah terjadi keguncangan harga jagung di pasar dunia. Saat ini, produksi cenderung tetap akibat terbatasnya perluasan lahan, padahal permintaan justru meningkat.

Pada 2007, produksi jagung dunia mencapai 770 juta ton, sementara konsumsi 774 juta ton. China yang sebelumnya eksportir jagung, tahun lalu mulai mengimpor 1 juta ton, Malaysia mengimpor 5 juta ton, Indonesia 1 juta ton, Taiwan 1 juta ton.

Kebutuhan importasi jagung untuk negara-negara di Asia tahun lalu 35 juta ton yang dipasok dari negara Brasil, Argentina, dan AS. Potensi perluasan lahan, menurut Andy, hanya bisa dilakukan di hutan Amazon dan Indonesia. Di luar wilayah itu sulit.

Jagung saat ini jadi sumber pangan manusia, pakan ternak, dan prioritas utama untuk dikonversi sebagai sumber bioenergi (green oil). Ketiganya harus dipenuhi secara bersamaan sehingga salah satu dikorbankan.

Ketika perhatian penggunaan jagung sebagai sumber bioenergi digalakkan di dunia dan Indonesia, fungsi jagung sebagai bahan pakan ternak terpaksa dikorbankan untuk dialihfungsikan ke kendaraan, pabrik, dan listrik.

Departemen pertanian AS (USDA, United States Department of Agriculture) memperkirakan, kebutuhan etanol terus meningkat sampai 2010. Target produksi biofuel pada 2010 direncanakan 35 miliar galon.

Lebih dari 30% produksi jagung AS akan disedot ke industri biofuel. Tidak heran jika harga jagung terus meningkat. AS sedang mempertimbangkan prioritas pemanfaatan jagung untuk menjadi bahan pangan atau biofuel.

Artinya, masih besar peluang Indonesia menggenjot budidaya jagung mengingat permintaan pasar yang akan terus meningkat. Karenanya, jangan terlena. Jangan sia-siakan kesempatan emas di depan mata. [I3]

Source : inilah.com

Perakitan Varietas Jagung Hibrida

Kebutuhan akan pangan karbohidrat yang semakin meningkat akibat pertumbuhan penduduk sulit dipenuhi dengan hanya mengandalkan produksi padi, mengingat terbatasnya sumber daya terutama lahan dan irigasi. Jagung merupakan bahan pangan karbohidrat yang dapat membantu pencapaian dan pelestarian swasembada pangan. Disamping itu, jagung juga merupakan bahan pakan, bahan ekspor nonmigas dan bahan baku industri (Subandi et al., 1998).

Varietas jagung hibrida telah terbukti memberikan hasil yang lebih baik dari varietas jagung bersari bebas. Secara umum, varietas hibrida lebih seragam dan mampu berproduksi lebih tinggi 15 - 20% dari varietas bersari bebas (Morris, 1995). Selain itu, varietas hibrida menghasilkan biji yang lebih besar dibandingkan varietas bersari bebas (Wong, 1991).

Jagung hibrida merupakan generasi F1 hasil persilangan dua atau lebih galur murni (Singh, 1987) dan memiliki perbedaan keragaman antar varietas, tergantung dari tipe hibridisasi dan stabilitas galur murni (Agrawal, 1997). Komersialisasi jagung hibrida sudah dimulai sejak tahun 1930, namun penanaman jagung hibrida secara luas (ekstensif) di Asia baru dimulai pada tahun 1950-1960. Di sebagian besar negara berkembang, 61% dari lahan pertananaman jagung masih ditanami varietas bersari bebas (CIMMYT, 1990). Hal ini dimungkinkan karena varietas bersari bebas lebih mampu beradaptasi pada kondisi lahan marginal (Pallival dan Sprague, 1981).

Meskipun demikian, varietas jagung hibrida telah memberikan hasil yang memuaskan di sebagian negara-negara berkembang, terutama di negara-negara yang sudah memiliki industri benih swasta. Varietas hibrida memiliki keunggulan dibandingkan dengan varietas bersari bebas, diantaranya mampu berproduksi lebih tinggi 15 - 20% dan memiliki karakteristik baru yang diinginkan seperti ketahanan terhadap penyakit. Selain itu, penampilan varietas hibrida lebih seragam (Morris, 1995), dimana varietas bersari bebas pada umumnya memiliki keragaman yang tinggi pada karakteristik tongkol dan biji (Agrawal, 1997).

Source : http://willy.situshijau.co.id/2008/04/20/perakitan-varietas-jagung-hibrida/

Pasokan Jagung Anjlok

M Dindien Ridhotulloh

Inilah.com, Jakarta – Dalam 3-4 tahun ke depan Indonesia akan kesulitan mendapatkan jagung impor, karena ketersediaan di pasaran internasional semakin menurun. Oleh karenanya pemerintah harus mampu memenuhi kebutuhan nasional dari produksi dalam negeri.

’’Tiga hingga empat tahun ke depan akan susah mendapatkan jagung impor. Mau tidak mau produksi dalam negeri harus ditingkatkan,’’ kata Manajer Bisnis Kawasan ASEAN PT Dupont, Andy Gumala, di Jakarta, Minggu malam (30/9).

Andy mengatakan, penurunan stok jagung di pasar internasional disebabkan tingginya permintaan komoditas tersebut untuk bahan baku ethanol yang merupakan sumber energi alternatif setelah harga minyak bumi melambung.

Dia mengungkapkan, China yang sebelumnya mampu mencukupi kebutuhan jagung dalam negeri kini menjadi importir, karena produksi negara tersebut hanya 144 juta ton sementara keperluan mencapai 145 juta ton.

Setiap tahun, tambahnya, kebutuhan ethanol di China selalu meningkat, bahkan negara tersebut telah membangun empat pabrik ethanol dari jagung dengan kapasitas masing-masing 15 juta ton per tahun.

Selain China, menurut dia, Amerika Serikat (AS) yang selama ini menjadi eksportir jagung terbesar di dunia juga mulai mengalihkan komoditas tersebut untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri guna pengembangan ethanol. Produksi jagung AS mencapai 250 juta ton per tahun, 70 juta ton di antaranya untuk bahan baku industri ethanol dalam negeri.

’’Akibat penurunan pasokan jagung untuk pasar internasional maka harga jagung yang semula US$ 220 per ton menjadi US$ 325 per ton,’’ katanya.

Peningkatan harga jagung tersebut, tambahnya, sangat berdampak terhadap industri pakan ternak yang bahan baku utamanya jagung maupun peternak ayam, apalagi harga komoditas tersebut di dalam negeri saat ini naik dari Rp1.000/kg menjadi Rp2.500/kg.

Andy mengatakan, upaya peningkatan produksi jagung dalam negeri sangat besar potensinya karena dari 3 juta hektar areal jagung yang ada saat ini baru 30 persen yang menggunakan benih hibrida. Dengan menggunakan benih hibrida, lanjutnya, produktivitas per hektar mencapai 6 ton sementara benih komposit hanya menghasilkan 2 ton per hektar.

’’Jika saat ini areal penanaman jagung hibrida ditingkatkan seluas 0,5 juta hektar saja maka akan diperoleh tambahan produksi jagung sebanyak dua juta ton,’’ katanya.

Menyinggung ketersediaan benih jagung hibrida dalam negeri, Andy mengatakan, saat ini paling tidak terdapat empat produsen benih yang besar, yakni PT Dupont, PT BISI, PT Monsanto, dan PT Syngenta, belum termasuk industri-industri skala kecil. ‘’Pabrik benih nasional sudah cukup, jadi untuk benih hibrida tidak masalah,’’ katanya.

Dia mengatakan, selain meningkatkan produktivitas, penggunaan benih hibrida juga menambah keuntungan petani. Jika modal usaha yang dikeluarkan petani jagung sebesar Rp 4 juta per hektar dan Rp 600 ribu di antaranya untuk benih, maka dengan hasil 7 ton per hektar, petani akan mendapatkan hasil Rp 11,9 juta dengan harga jagung Rp 1.700per kilogram.

Source : inilah.com

Cara Gubernur Mengembangkan Bisnis Jagung Di Gorontalo




Gorontalo tergolong provinsi yang muda di Indonesia. Pada Bulan Februari 2001, Provinsi Gorontalo resmi berdiri berdasarkan UU no 38 tahun 2000. Dahulu, Gorontalo tergabung dalam Provinsi Sulawesi Utara ( Sulut ). Namun demikian provinsi berpenduduk sekitar 880 ribu jiwa ini tergolong maju pesat. Di bawah kepemimpinan Gubernur Fadel Muhammad, dalam jangka waktu relatif singkat, dua tahun, Gorontalo berhasil menunjukkan eksistensi dan sumbangsihnya kepada negara Indonesia. Sejak Februari 2003, Gorontalo sudah bisa menjual jagung ke luar daerah. Bahkan, dua bulan kemudian Gorontalo sudah mulai mengekspor jagung ke luar negeri. Hingga Agustus 2003, total jagung yang di jual ke luar Gorontalo, baik domestik maupun luar negeri, mencapai jumlah 66 ribu ton lebih.
Sebagai gubernur, Fadel bisa dibilang jeli dalam melirik potensi Gorontalo. Lahan pertanian di Provinsi seluas kurang lebih 12 ribu km2 itu memang sebagian besar terdiri lahan kering.Menurut data dari Pemprov Gorontalo, saat ini terdapat lahan kering selaus 126 ribu ha lebih . Sementara lahan sawahnya hanya 2,8 ribu ha.
Pilihan Gubernur Fadel Muhammad untuk mengembangkan jagung di Gorontalo tergolong pilihan yang cukup berani. Bukan apa-apa, biasanya prioritas utama pengembangan bahan pangan adalah beras, mengikuti titik berat pembangunan pangan di tingkat nasional. Tapi, Gubernur ternyata lebih memilih jagung. Salah satu kunjungannya ke Cina memberikan inspirasi kepada Gubernur untuk mengembangkan jagung di Gorontalo.
Beberapa pertimbangan yang menjadi dasar pemilihan pengembangan jagung antara lain, di Gorontalo tersedia lahan yang sangat luas yang cocok untuk pengembangan tanaman jagung. Iklim Gorontalo juga mendukung upaya penanaman jagung. Para petani jagung Gorontalo bisa panen 2-3 kali satu tahun. Air tanah di lahan datar cukup dangkal, dengan kedalaman berkisar antara 3-8 meter. Dan dua pelabuhan, Anggrek dan Gorontalo, sangat mendukung untuk perdagangan jagung ke luar Gorontalo.
Dan bukan sembarang pengembangan. Industri jagung dari hulu ke hilir sudah diperhitungkan secara cermat. Pemprov Gorontalo menjamin ketersediaan benih unggul ( hibrida dan komposit ) dan pupuk dengan harga terjangkau. Pemprov Gorontalo juga menganggarkan dana untuk menyediakan dan membangun sarana dan prasarana yang mendukung industri jagung. Sepanjang 130 km jalan sentra produksi jagung dibangun. Demikian juga gudang/silo. Tak ketinggalan Pemprov Gorontalo juga mengusahakan tersedianya alat pemipil jagung dengan kapasitas 1400-2000 kg/jam.
Dan yang sangat penting dalam kebijakan jagung, Pemprov Gorontalo menjamin dukungan pasar atas produksi jagung yang dihasilkan petani. Salah satunya dengan menetapkan kepastian harga jagung. Saat ini, Pemprov Gorontalo mematok harga jual jagung dari petani sebesar Rp 700/kg dengan kadar air 17%. Sedangkan harga gudang berselisih 100 rupiah, yakni Rp 800/kg dengan kadar air sama.
Jagung Gorontalo dipasarkan kemlaur daerah, bahkan ke luar negeri. Untuk pasar domestik, sebagian besar jagung Gorontalo dijual ke Pulau Jawa. Sementara untuk ekspor ke laur negeri, saat ini beberapa negara sudah menajdi tujuan rutin pengiriman jagung Gorontalo. Ngara-negara tersebut adalah Malaysia, Korea, Jepang dan Philipina. Untuk pasar ekspor, Gubernur pasang target untuk memasok sekitar 1 juta ton jagung ke Korea.
Untuk mengembangkan lebih lanjut industri agribisnis jagung di Gorontalo, Pemprov Gorontalo telah menyusun beberapa kegiatan yang berkaitan dengan kelembagaan agribisnis. Kegiatan tersebut antara lain, pembentukan posko agropolitan di tingkat kecamatan, pembinaan kelompok tani, dan terbentuknya Masyarakat Agribisnis Jagung (MAJ).
Di samping itu, Pemprov Gorontalo juga menyusun kegiatan on farm, untuk menjamin kontinuitas hasil Produksi jagung. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah; percontohan teknologi budidaya jagung di 70 lokasi dan setiap lokasi 10 ha, pada sentra produksi jagung; pembentukan maize center dengan program show windows, selaku percontohan sumber teknologi jagung, perbaikan jagung varietas local, menyusun master plan yang berbasis pengembangan jagung; demplot, pemupukan dan teknologi pengolahan tanah; pemanfaatan air tanah ( 3 kali tanam dalam setahun ); dan percontohan sistem tanaman dan ternak ( crop livestock system ). (Blt Pangan/ hms)

Source : http://www.gorontaloprov.go.id