Produksi Padi, Jagung dan Kedelai di Provinsi Sulawesi Selatan (ATAP 2006-2007 dan ARAM II 2008)


Tuesday, 01 July 2008
1. Padi
  • Angka Tetap (ATAP) tahun 2006, produksi padi pada Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 3,37 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), yang terdiri dari padi sawah 3,35 juta ton dan padi ladang 0,02 juta ton.
  • Angka Tetap (ATAP) tahun 2007, produksi padi pada Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 3,64 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), yang terdiri dari padi sawah 3,62 juta ton dan padi ladang 0,02 juta ton.
  • Angka Ramalan II (ARAM II) 2008 produksi padi pada tahun 2008 Provinsi Sulawesi Selatan diperkirakan sebesar 3,87 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), yang terdiri dari padi sawah 3,85 juta ton dan padi ladang 0,02 juta ton.
  • Jika dibandingkan antara ATAP 2006 dan ATAP 2007 produksi padi di Provinsi Sulawesi Selatan mengalami peningkatan sebesar 269,63 ribu ton GKG (naik 8,01 persen). Peningkatan produksi padi disebabkan oleh meningkatnya luas panen sebesar 50,89 ribu hektar (7,07 persen) dan juga produktivitas sedikit mengalami peningkatan sebesar 0,41 kuintal/perhektar (0,88 persen). Sedangkan pada tahun 2008 (ARAM II) diperkirakan produksi padi meningkat lagi sebesar 239,12 ribu ton (6,58 persen).

2. Jagung
  • Angka Tetap (ATAP) 2006 produksi jagung pada tahun sebesar 696,08 ribu ton pipilan kering, dengan luas panen 206,39 ribu hektar dan produktivitas 33,73 kuintal setiap hektar
  • Angka Tetap (ATAP) 2007 produksi jagung pada tahun sebesar 969,96 ribu ton pipilan kering, Dibandingkan produksi tahun 2006 terjadi peningkatan sebesar 273,87 ribu ton (39,34) persen. Kenaikan produksi disebabkan oleh meningkatnya luas panen 56,05 ribu hektar (27,16 persen) dan juga produktivitas naik 3,23 kuintal perhektar.
  • Angka Ramalan II (ARAM II) 2008 produksi jagung sebesar 994,98 ribu ton pipilan kering. Dibandingkan produksi tahun 2007, terdapat peningkatan sebesar 25,03 ribu ton pipilan kering (2,58 persen). Kenaikan produksi disebabkan oleh naiknya produktivitas sebesar 1,08 kuintal perhetar, sedangkan luas panen justru turun sebesar 0,95 ribu hektar (-0,36 persen)

3. Kedelai
  • Angka Tetap (ATAP) 2006, produksi Kedelai pada sebesar 22,24 ribu ton biji kering, dengan luas panen 14,19 ribu hektar dan produktivitas 15,68 kuintal setiap hektarnya.
  • Angka Tetap (ATAP) 2007 produksi jagung pada tahun sebesar 18,97 ribu ton pipilan kering, Dibandingkan produksi tahun 2006 terjadi penurunan sebesar 3,27 ribu ton (-14,70 persen). Turunnya produksi disebabkan oleh turunnya luas panen 2,16 ribu hektar (-15,22 persen) tapi produktivitas sedikit melami peningkatan yaitu naik 0,10 kuintal perhektar (0,61 persen).
  • Angka Ramalan II (ARAM II) 2008 produksi Kedelai diperkirakan sebesar 26,25ribu ton biji Kering. Jika dibandingkan dengan produksi tahun 2007, terjadi kenaikan sebesar 7,28 ribu ton (38,35 persen). Kenaikan produksi diikuti oleh kenaikan luas panen sebesar 3,6 0ribu hektar (29,89 persen) dan produktivitas 1,03 kuital perhektar (6,51 persen).


Source : http://sulsel.bps.go.id

Produktivitas Meningkat, Indonesia Siap Jadi Net-Eksportir Jagung

JAKARTA - Menteri Pertanian Anton Apriyantono menyakini Indonesia segera menjadi net-eksportir jagung dengan cara meningkatkan produktivitas pada lahan yang ada saat ini. “Sekarang produktivitasnya baru 3,7 ton per hektar pada luas panen 3,6 juta hektar. Kalau produktivitasnya meningkat saja antara 4-5 ton per hektar, maka Indonesia siap jadi net-eksportir,” ujar Mentan Anton Apriyantono saat menjadi pembicara kunci dalam Seminar Nasional Peranan Jagung dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan di Jakarta, Rabu (28/5).

Menurut Mentan, peningkatan produksi jagung sangat terkait dengan benih. Hingga kini baru 40 % benih yang digunakan adalah hibrida yang peningkatan produksinya sangat memadai. Bila seluruh benih komposit tergantikan dengan hibrida, maka kenaikan produksi akan terjadi dan pada akhirnya kebutuhan dalam negeri dapat terpenuhi secara keseluruhan dan terdapat kelebihan yang bisa digunakan untuk ekspor.

“Tahun ini, kita targetkan adanya kenaikan produksi hingga 20% sehingga total produksi kita 15,9-16,5 juta ton. Jumlah ini meningkat jauh dari tahun lalu yang 13,26 juta ton. Peningkatan produksi tersebut dengan peningkatan produktivitas 4-4,2 ton per hektar,” ujar Mentan.

Dengan asumsi capaian produksi tersebut tercapai, maka Indonesia sudah dapat dikatakan sebagai net-eksportir mengingat kebutuhan dalam negeri, terutama industri pakan ternak yang hanya mencapai 8,13 juta ton. Dengan demikian, terdapat kelebihan kebutuhan yang mencapai 7,5-8,5 juta ton. Bila kelebihan tersebut diserap untuk kebutuhan lain dalam negeri mencapai 2 juta ton, maka terdapat 5 juta ton yang bisa diekspor. Dalam catatan, negara-negara importer yang sampai saat ini membutuhkan jagung antara lain Malaysia, Jepang, dan India. Bahkan, Jepang setiap tahunnya membutuhkan jagung hingga 16 juta ton.

Selain persoalan benih, Mentan juga mengungkapkan peningkatan produsi jagung nasional juga dilakukan melalui perluasan areal lahan, terutama lahan kering dan juga lahan-lahan perkebunan milik swasta maupun perhutani atau inhutani. “Masih banyak lahan potensial yang bisa dioptimalkan dalam rangka meningkatkan produksi nasional,” tegas Mentan.

Di bagian lain, Mentan mengakui masih terjadi kesenjangan antara daerah penghasil dan pengguna jagung di Indonesia. Kondisi ini menjadi sebab antara pasokan dan produksi akhir dari jagung, yang mayoritas menjadi pakan ternak, tak sebanding. “Yang pasti harga pakan menjadi lebih mahal dibanding bila antara daerah produsen jagung juga menjadi daerah produsen pakan,” ujar Mentan.

Untuk mengatasinya, Mentan mengungkapkan bila Deptan telah berupaya membuat silo-silo atau tempat penyimpanan jagung di berbagai daerah produsen. “Memang sudah kita buat 39 pusat penyimpanan dan penggilingan, namun jumlah itu tidak memadai dengan kapasitas produksi yang terus meningkat. Oleh karena itu, kita berharap jumlah pusat penyimpanan ini bisa bertambah sehingga memperpendek jalur distribusi dari wilayah produsen ke wilayah yang membutuhkannya,” papar Mentan.

Hingga kini, Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Lampung menjadi wilayah produsen jagung nasional. Masing-masing menghasilkan 40%, 21%, dan 12% dari produksi nasional. Sementara, Sulawesi Selatan dan Gorontalo yang diharapkan menjadi wilayah utama penghasil jagung baru menghasilkan 7% dan 3% produksi nasional. **

Source : http://antonapriyantono.com

Jagung antara Pangan, Pakan, & Energi


Oleh trubusid




Berakhirnya masa ujian nasional 2008 bukan berarti kesibukan Mukhlis SPd sebagai guru berkurang. Pada Juni 2008 mendatang kesibukannya justru bakal bertambah. Saat itulah ia memanen 11.700 ton jagung pipil kering dari lahan 1.300 ha. Dengan harga jual Rp1.900/kg, setidaknya Rp22-miliar akan mengalir ke rekeningnya.

Jagung sebanyak itu memang bukan diperoleh dari lahan pribadinya. Mukhlis bermitra dengan 650 pekebun lain di Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Guru di salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Kecamatan Labangka itu membantu menyediakan modal produksi bagi para pekebun. Hasil panen seluruhnya dibeli Mukhlis dengan harga Rp1.700/kg untuk jagung berkadar air 20%.

Jagung itu kemudian dikeringkan hingga berkadar air 17%, lalu dijual kepada pembeli asal Surabaya dengan harga Rp1.900/kg. Mukhlis hanya mengutip laba Rp200/kg. Total keuntungan yang diraih mencapai Rp2-miliar/musim tanam.

Harga naik

Keuntungan berlimpah sejatinya tak hanya dinikmati Mukhlis. Para pekebun juga menikmati manisnya perniagaan jagung. Dengan biaya produksi Rp2-juta/ha, pekebun memanen rata-rata 9 ton jagung pipil kering/ha. Bila harga jual jagung berkadar air 20% di tingkat pekebun Rp1.700/kg, pekebun meraup omzet hingga Rp15,3-juta/musim tanam. Setelah dikurangi biaya produksi, pekebun memperoleh pendapatan Rp13,3-juta/musim tanam (4 bulan) atau Rp3,3-juta/bulan.

Beberapa bulan terakhir para pekebun jagung memang tengah berbulan madu. Harga yang terus menanjak menjadi alasan para pekebun berbondong-bondong membudidayakan Zea mays. Menurut data Subdirektorat Pasar Domestik Tanaman Pangan, Departemen Pertanian, dalam kurun 1998-2004 harga jagung nasional memang cenderung meningkat.

Harga sempat anjlok yakni Rp1.083/kg pada 2000. Namun, naik kembali menjadi Rp1.590 pada 2001 dan Rp2.139 pada 2004. Menurut Novia Edi Maharanto, dari divisi business analyst fieldcrop PT Tanindo Subur Prima, pada Februari 2008 harga jagung Rp2.500/kg. Bahkan di beberapa daerah sampai menyentuh harga Rp2.800.

Oleh sebab itulah areal tanam jagung di berbagai daerah terus bertambah. Salah satu contoh di Jawa Timur. Pada 2006, luas areal tanam di provinsi penghasil jagung terbesar di tanahair itu mencapai 1.099.184 ha dengan jumlah produksi 4.011.182 ton/tahun. Jumlah itu meningkat menjadi 1.153.496 ha dengan produksi 4.252.182 ton/tahun atau naik 241.000 ton pada 2007.

Permintaan tinggi

Bertambahnya luas areal tanam menjadi berkah bagi produsen benih. Menurut Doddy Wiratmoko, dari divisi market development fieldcrop PT Tanindo Subur Prima, volume penjualan benih pada 2006 hanya 10.000 ton. Pada 2007 meningkat hingga 19.800 ton. 'Kenaikannya hampir 2 kali lipat,' ujarnya. Pantas bila PT BISI Internasional Tbk berencana menyiapkan benih hingga 40.000 ton pada 2008. Jumlah itu untuk memenuhi kebutuhan benih pada penanaman seluas 2-juta hektar.

Lalu, mengapa harga jagung terus meroket? Handoyo, ketua Masyarakat Agribisnis Jagung Kabupaten Sumbawa, menuturkan tingginya harga jagung seiring derasnya permintaan dari industri pakan dan makanan. Produsen pakan ternak, konsumen jagung terbesar di tanahair. Mereka menyerap hingga 50% dari total produksi jagung nasional. 'Pembeli dari Surabaya bahkan sampai membangun gudang penyimpanan di Sumbawa,' katanya. Padahal, Jawa Timur gudangnya jagung nasional. Itu artinya, pasokan dari para pekebun di sana masih kurang sehingga mesti mendatangkan dari luar.

Kencangnya permintaan jagung di tanahair ditengarai akibat melambungnya harga jagung dunia. Harga jagung internasional per 9 Januari 2008 mencapai US$325/ton atau Rp3.072/kg. Harga itu jauh lebih tinggi ketimbang harga pada 2004 yang hanya US$90,37/ton atau Rp854/kg.

Harga minyak

Tingginya harga jagung dunia keruan saja membuat gonjang-ganjing industri pengolah jagung seperti produsen pakan ternak. Maklum, selama ini mereka juga mengandalkan pasokan impor. Untuk menekan biaya produksi, mereka akhirnya berpaling ke jagung lokal yang harganya lebih murah.

Harga jagung dunia yang semakin tinggi itu tak lepas dari efek domino melambungnya harga minyak dunia. Harga minyak mentah yang mencapai lebih dari US$100/barel mendorong beberapa negara untuk mengembangkan bahan bakar alternatif seperti bioetanol.

Menurut Dr M Arief Yudiarto, peneliti Balai Besar Teknologi Pati, jagung salah satu bahan baku yang potensial karena mengandung pati 60-70%. Seliter bioetanol dapat dihasilkan dari 2,5 kg jagung. Rendemen bioetanol dari jagung paling tinggi dibandingkan dengan bahan baku lain seperti tetes tebu alias molase. Untuk menghasilkan seliter bioetanol diperlukan 4 kg molase.

Itulah sebabnya 53% dari jumlah produsen bioetanol di dunia menggunakan jagung sebagai bahan baku. Salah satunya Amerika Serikat. Pada 2007, sebanyak 24% dari total konsumsi jagung di Amerika digunakan untuk memproduksi bioetanol.

Menggunakan jagung sebagai bahan baku energi ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi jagung sangat potensial karena memiliki rendemen tinggi. Di sisi lain pasokan bahan baku berkompetisi dengan kebutuhan pangan dan pakan. Meningkatnya harga jagung bisa berimbas pada harga pangan dan hasil ternak. Bioetanol dituding bakal memicu krisis pangan.

Mahal

Di Indonesia jagung memang belum populer digunakan sebagai bahan baku bioetanol. Pemakaian bioetanol berbahan jagung kurang efisien karena harganya lebih mahal daripada premium. Itu lantaran harga jagung cukup tinggi yakni Rp2.300/kg. Jadi untuk bahan baku saja menghabiskan biaya Rp5.750/liter, belum lagi ditambah biaya produksi. Sementara harga premium hanya Rp4.500/liter. Di Amerika harga setinggi itu tergolong murah karena harga bensin di sana setara Rp8.464/liter.

Meine van Noordwijk PhD, koordinator regional International Centre for Research Agroforestry (ICRAF), mewanti-wanti sebaiknya Indonesia jangan tergiur mengikuti jejak Amerika Serikat menggunakan jagung untuk bioetanol. Anggota famili Poaceae itu lebih rakus nitrogen. Menurut Committee on Water Implications of Biofuels Production, Water Science and Technology Board, Division on Earth and Life Studies, National Research Council Amerika Serikat, jagung membutuhkan pasokan nitrogen hingga 150 kg/ha dan 50 kg fosfor/ha.

Jumlah itu jauh lebih tinggi ketimbang kedelai untuk bahan baku biodiesel yang hanya membutuhkan 10 kg nitrogen/ha dan 20 kg fosfor. 'Padahal, untuk menghasilkan nitrogen dalam bentuk Urea diperlukan energi yang sangat tinggi,' kata Meine. Oleh karena itu Amerika kini tengah menjajaki pembuatan bioetanol berbahan serat. Jadi, bukan biji jagungnya yang diolah, melainkan tongkol, kulit, dan batang jagung. (Imam Wiguna/Peliput: Andretha Helmina, Niken Anggrek Wulan, dan Vina Fitriani)

Source : http://www.trubus-online.co.id

Momentum Emas Petani Jagung

M Dindien Ridhotulloh

(Istimewa)

INILAH.COM, Jakarta - Stok jagung dunia terus merosot. Jumlah prak sepadan dengan permintaan. Sesungguhnya, kondisi ini bisa menjadi momentum emas bagi bangkitnya budidaya tanaman jagung di Tanah Air. Apalagi, harganya pun sedang bagus.

Saat ini, stok jagung dunia hanya mencukupi kebutuhan untuk 48 hari akibat tingginya permintaan dari industri bahan campuran utama ethanol, biofuel, pakan ternak hingga pangan olahan. Otomatis, harganya juga terus naik.

“"Keterbatasan produksi yang tidak mampu memenuhi kebutuhan permintaan ini sebetulnya dapat dijadikan momentum emas untuk peningkatan produksi jagung nasional," ujar Siswono Yudo Husodo, Ketua Dewan Pertimbangan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Sabtu (17/5) di Jakarta.

Dalam setahun terakhir, harga jagung melonjak 69%. Gagal panen dan kenaikan harga jagung diprediksi memperburuk stok pangan global yang diawali dengan menurunnya ekspor beras dari Mesir, India, dan Vietnam.

Harga jagung di pasar internasional seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (17/5), sudah mencapai US$ 591 per bushel. Naiknya harga jagung dunia ikut mendongkrak harga jagung lokal.

"Kondisi semacam ini sangat menguntungkan petani. Harga jual jagung pipilan kering saat ini mencapai Rp 2.000 per kilogram. Keuntungan yang sangat baik," tambah Siswono.

Saat ini, biaya produksi untuk bertanam jagung per hektare berkisar Rp 3,5 juta. Jika rata-rata produksi 8 ton per hektare, pendapatan petani atau pengusaha setelah dikurangi biaya produksi mencapai Rp 12,5 juta.

Melihat jumlah modal yang cukup besar, tampaknya, masih perlu peran swasta agar Indonesia bisa menjadi produsen jagung dunia dengan menggenjot target perluasan tanam dan produktivitasnya.

ASEAN Business Manager DuPont Andy Gumala menambahkan, kondisi yang terjadi pada komoditas jagung ini sangat mengkhawatirkan. Apalagi, hal ini sudah berlangsung tiga tahun. Idealnya, stok jagung dunia cukup untuk satu musim tanam.

Dalam kondisi seperti sekarang, mudah terjadi keguncangan harga jagung di pasar dunia. Saat ini, produksi cenderung tetap akibat terbatasnya perluasan lahan, padahal permintaan justru meningkat.

Pada 2007, produksi jagung dunia mencapai 770 juta ton, sementara konsumsi 774 juta ton. China yang sebelumnya eksportir jagung, tahun lalu mulai mengimpor 1 juta ton, Malaysia mengimpor 5 juta ton, Indonesia 1 juta ton, Taiwan 1 juta ton.

Kebutuhan importasi jagung untuk negara-negara di Asia tahun lalu 35 juta ton yang dipasok dari negara Brasil, Argentina, dan AS. Potensi perluasan lahan, menurut Andy, hanya bisa dilakukan di hutan Amazon dan Indonesia. Di luar wilayah itu sulit.

Jagung saat ini jadi sumber pangan manusia, pakan ternak, dan prioritas utama untuk dikonversi sebagai sumber bioenergi (green oil). Ketiganya harus dipenuhi secara bersamaan sehingga salah satu dikorbankan.

Ketika perhatian penggunaan jagung sebagai sumber bioenergi digalakkan di dunia dan Indonesia, fungsi jagung sebagai bahan pakan ternak terpaksa dikorbankan untuk dialihfungsikan ke kendaraan, pabrik, dan listrik.

Departemen pertanian AS (USDA, United States Department of Agriculture) memperkirakan, kebutuhan etanol terus meningkat sampai 2010. Target produksi biofuel pada 2010 direncanakan 35 miliar galon.

Lebih dari 30% produksi jagung AS akan disedot ke industri biofuel. Tidak heran jika harga jagung terus meningkat. AS sedang mempertimbangkan prioritas pemanfaatan jagung untuk menjadi bahan pangan atau biofuel.

Artinya, masih besar peluang Indonesia menggenjot budidaya jagung mengingat permintaan pasar yang akan terus meningkat. Karenanya, jangan terlena. Jangan sia-siakan kesempatan emas di depan mata. [I3]

Source : inilah.com

Perakitan Varietas Jagung Hibrida

Kebutuhan akan pangan karbohidrat yang semakin meningkat akibat pertumbuhan penduduk sulit dipenuhi dengan hanya mengandalkan produksi padi, mengingat terbatasnya sumber daya terutama lahan dan irigasi. Jagung merupakan bahan pangan karbohidrat yang dapat membantu pencapaian dan pelestarian swasembada pangan. Disamping itu, jagung juga merupakan bahan pakan, bahan ekspor nonmigas dan bahan baku industri (Subandi et al., 1998).

Varietas jagung hibrida telah terbukti memberikan hasil yang lebih baik dari varietas jagung bersari bebas. Secara umum, varietas hibrida lebih seragam dan mampu berproduksi lebih tinggi 15 - 20% dari varietas bersari bebas (Morris, 1995). Selain itu, varietas hibrida menghasilkan biji yang lebih besar dibandingkan varietas bersari bebas (Wong, 1991).

Jagung hibrida merupakan generasi F1 hasil persilangan dua atau lebih galur murni (Singh, 1987) dan memiliki perbedaan keragaman antar varietas, tergantung dari tipe hibridisasi dan stabilitas galur murni (Agrawal, 1997). Komersialisasi jagung hibrida sudah dimulai sejak tahun 1930, namun penanaman jagung hibrida secara luas (ekstensif) di Asia baru dimulai pada tahun 1950-1960. Di sebagian besar negara berkembang, 61% dari lahan pertananaman jagung masih ditanami varietas bersari bebas (CIMMYT, 1990). Hal ini dimungkinkan karena varietas bersari bebas lebih mampu beradaptasi pada kondisi lahan marginal (Pallival dan Sprague, 1981).

Meskipun demikian, varietas jagung hibrida telah memberikan hasil yang memuaskan di sebagian negara-negara berkembang, terutama di negara-negara yang sudah memiliki industri benih swasta. Varietas hibrida memiliki keunggulan dibandingkan dengan varietas bersari bebas, diantaranya mampu berproduksi lebih tinggi 15 - 20% dan memiliki karakteristik baru yang diinginkan seperti ketahanan terhadap penyakit. Selain itu, penampilan varietas hibrida lebih seragam (Morris, 1995), dimana varietas bersari bebas pada umumnya memiliki keragaman yang tinggi pada karakteristik tongkol dan biji (Agrawal, 1997).

Source : http://willy.situshijau.co.id/2008/04/20/perakitan-varietas-jagung-hibrida/

Jagung, antara bahan makanan dan biofuel

Amerika sedang mempertimbangkan prioritas pemanfaatan jagung untuk menjadi bahan pangan atau untuk biofuel. Seiring dengan tuntutan pelestarian lingkungan, Amerika meningkatkan produksi bahan bakar nabati (biofuel) dengan pemanfaatan jagung. Peningkatan pemanfaatan jagung untuk biofuel ternyata berdampak pada berkurangnya pasokan untuk menunjang pertanian dan peternakan.

Jagung, menjadi andalan Amerika untuk memproduksi biofuel. Produksi jagung Amerika tersedot ke kilang minyak biofuel. Padahal selama ini jagung menjadi kebutuhan untuk pertanian dan bahan pakan. Sapi-sapi Amerika sejak lama dibiakkan dengan pemberian jagung, sebagai pakan ternak. Karena itu, ketika produksi jagung beralih menjadi bahan baku biofuel, harga jagung Amerika naik, dan para peternak sapi terkena imbasnya.

Kecendrungan yang ada adalah bahan bakar minyak meningkat tajam, sehingga kebutuhan biofuel juga ikut naik. Kenaikan itu dengan sendirinya menjadi penyebab kenaikan harga jagung. Sisi lain dari kenaikan harga jagung di Amerika adalah banyaknya petani Amerika yang beralih dari menanam kedelai menjadi menanam jagung. Produksi kedelai merosot, maka harganya menjadi naik. Konon inilah salah satu penyebab harga kedelai di Indonesia ikut naik, karena selama ini Indonesia mengimpor kedelai dari Amerika.

Kembali soal pilihan prioritas untuk biofuel atau untuk stok pangan. Kenaikan harga jagung menyebabkan para peternak Amerika mengurangi ternak sapi. Tentu saja akibatnya harga daging menjadi naik. Untuk diketahui, harga komoditas pertanian di Amerika ditentukan oleh keseimbangan “supply-demand”, jadi bila pasokan menipis maka akibatnya harga menjadi naik.

Departemen pertanian Amerika (USDA, United States Department of Agriculture) memperkirakan bahwa kebutuhan etanol Amerika akan terus meningkat sampai tahun 2010. Target produksi biofuel pada tahun 2010 menurut rencana sebesar 35 miliar galon. Untuk mendukung ini lebih dari 30 persen produksi jagung Amerika akan disedot ke industri biofuel. Tidak heran kalau harga jagung akan terus meningkat. Persaingan kebutuhan bahan bakar nabati dan kebutuhan pangan akan terus terjadi, sampai suatu saat ada intervensi, atau tercapai keseimbangan yang wajar. Pelestarian lingkungan dengan pemanfaatan biofuel, memang menempuh jalan berliku untuk bisa difahami dan diterima banyak orang.

Source : http://www.togarsilaban.com/2008/04/01/jagung-antara-bahan-makanan-dan-biofuel/


Pasokan Jagung Anjlok

M Dindien Ridhotulloh

Inilah.com, Jakarta – Dalam 3-4 tahun ke depan Indonesia akan kesulitan mendapatkan jagung impor, karena ketersediaan di pasaran internasional semakin menurun. Oleh karenanya pemerintah harus mampu memenuhi kebutuhan nasional dari produksi dalam negeri.

’’Tiga hingga empat tahun ke depan akan susah mendapatkan jagung impor. Mau tidak mau produksi dalam negeri harus ditingkatkan,’’ kata Manajer Bisnis Kawasan ASEAN PT Dupont, Andy Gumala, di Jakarta, Minggu malam (30/9).

Andy mengatakan, penurunan stok jagung di pasar internasional disebabkan tingginya permintaan komoditas tersebut untuk bahan baku ethanol yang merupakan sumber energi alternatif setelah harga minyak bumi melambung.

Dia mengungkapkan, China yang sebelumnya mampu mencukupi kebutuhan jagung dalam negeri kini menjadi importir, karena produksi negara tersebut hanya 144 juta ton sementara keperluan mencapai 145 juta ton.

Setiap tahun, tambahnya, kebutuhan ethanol di China selalu meningkat, bahkan negara tersebut telah membangun empat pabrik ethanol dari jagung dengan kapasitas masing-masing 15 juta ton per tahun.

Selain China, menurut dia, Amerika Serikat (AS) yang selama ini menjadi eksportir jagung terbesar di dunia juga mulai mengalihkan komoditas tersebut untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri guna pengembangan ethanol. Produksi jagung AS mencapai 250 juta ton per tahun, 70 juta ton di antaranya untuk bahan baku industri ethanol dalam negeri.

’’Akibat penurunan pasokan jagung untuk pasar internasional maka harga jagung yang semula US$ 220 per ton menjadi US$ 325 per ton,’’ katanya.

Peningkatan harga jagung tersebut, tambahnya, sangat berdampak terhadap industri pakan ternak yang bahan baku utamanya jagung maupun peternak ayam, apalagi harga komoditas tersebut di dalam negeri saat ini naik dari Rp1.000/kg menjadi Rp2.500/kg.

Andy mengatakan, upaya peningkatan produksi jagung dalam negeri sangat besar potensinya karena dari 3 juta hektar areal jagung yang ada saat ini baru 30 persen yang menggunakan benih hibrida. Dengan menggunakan benih hibrida, lanjutnya, produktivitas per hektar mencapai 6 ton sementara benih komposit hanya menghasilkan 2 ton per hektar.

’’Jika saat ini areal penanaman jagung hibrida ditingkatkan seluas 0,5 juta hektar saja maka akan diperoleh tambahan produksi jagung sebanyak dua juta ton,’’ katanya.

Menyinggung ketersediaan benih jagung hibrida dalam negeri, Andy mengatakan, saat ini paling tidak terdapat empat produsen benih yang besar, yakni PT Dupont, PT BISI, PT Monsanto, dan PT Syngenta, belum termasuk industri-industri skala kecil. ‘’Pabrik benih nasional sudah cukup, jadi untuk benih hibrida tidak masalah,’’ katanya.

Dia mengatakan, selain meningkatkan produktivitas, penggunaan benih hibrida juga menambah keuntungan petani. Jika modal usaha yang dikeluarkan petani jagung sebesar Rp 4 juta per hektar dan Rp 600 ribu di antaranya untuk benih, maka dengan hasil 7 ton per hektar, petani akan mendapatkan hasil Rp 11,9 juta dengan harga jagung Rp 1.700per kilogram.

Source : inilah.com